Jember Jajaki Menjadi Kota Welas Asih

Home / Pendidikan / Jember Jajaki Menjadi Kota Welas Asih
Jember Jajaki Menjadi Kota Welas Asih Wakil Bupati Jember KH Abdul Muqiet Arief. (foto: istimewa)

TIMESJEMBER, JEMBER – Menjadi Kota Welas Asih merupakan target Pemkab Jember pada tahun 2019. Langkah awal untuk mewujudkannya dengan menggelar Forum Group Discussion (FGD) di Pendapa Wahyawibawagraha, Jember, beberapa waktu lalu.

“Jember akan mengembangkan rasa kepedulian di berbagai sektor, yang secara khusus dikemas dalam sebuah jaringan yakni Kota Welas Asih,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember Edy Budi Susilo dalam diskusi tersebut.

Dia mengatakan bahwa setelah menggelar FGD, langkah selanjutnya melaksanakan pelatihan yang dimulai pada lingkup dinas pendidikan yang ditujukan kepada seluruh kepala sekolah dan pemangku kepentingan. "Proses itu akan dilaksanakan selama tiga bulan secara terus menerus,"ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Jember KH Abdul Muqit Arief mengatakan bahwa untuk mewujudkan Jember sebagai Kota Welas Asih semua pihak harus memiliki kepedulian sosial. “Bagaimana membina masyarakat untuk bisa peduli terhadap sesama, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan,” kata Muqit.

Dia berharap Jember menjadi sebuah kota yang memperhatikan semua kalangan, di antara warga dengan warga, pimpinan dengan masyarakat saling memiliki rasa welas asih.

“Karena rasa welas asih ini perlu dikembangkan agar menjadikan masyarakat bahagia dan seluruh lapisan masyarakat bahagia. Jika rasa welas asih itu tidak ada, bagaimana kita akan meraih kebahagiaan,” tuturnya.

Jika upaya mewujudkan Jember sebagai Kota Welas Asih berhasil, maka akan dilakukan kerja sama dengan kota atau negara lain yang telah menerapkan Kota Welas Asih.

Haidar Bagir dari Compassionate Action Indonesia menjelaskan bahwa FGD ini untuk menentukan program-program yang akan dikerjakan. Menurutnya, program itu bisa berupa sosialisasi kepada orangtua siswa tentang pernikahan dini, tentang bayi stunting, pendidikan, kehidupan berumah tangga, dan lain sebagainya.

Sedangkan program untuk tenaga pendidik dan siswa berupa sosialisasi pengembangan sekolah menjadi sekolah welas asih. “Program Kota Welas Asih akan diukur dari seberapa berhasil kita dalam melibatkan sebanyak mungkin warga untuk berpartisipasi dalam program-program tersebut,” terangnya.

Hal ini, lanjutnya, memerlukan budaya gotong-royong dan rasa kesukarelawanan antarsesama manusia. “Karena rasa welas asih ini bukan program baru, tetapi merevitalisasi budaya yang sudah berakar,” ungkapnya.

Haidar berharap, pemerintah daerah dalam merancang programnya juga membubuhi prespektif welas asih dalam pembangunan fisiknya.

Jadi, program ini menjadi bagian integral dari program-program pembangunan Pemkab Jember, ditambah masyarakat yang diingatkan tentang pendidikan budaya welas asih. “Definisi Kota Welas Asih yakni kota yang warganya resah karena tahu ada di antara sesama warga yang mengalami kesulitan, sehingga sesama warga selalu terdorong saling membantu mengatasi kesulitan,” imbuh dia. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com