Ambitiose Sed Ineptum dan Kebohongan Zetsu Hitam

Home / Kopi TIMES / Ambitiose Sed Ineptum dan Kebohongan Zetsu Hitam
Ambitiose Sed Ineptum dan Kebohongan Zetsu Hitam Dena Setya Utama (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESJEMBER, MALANG – Tidak ada yang salah dengan sikap ambisius. Bahkan sedari kecil semua anak kecil di didik dengan perasaan ambisius orang tua nya yang menaruh banyak harap kepada anaknya. Bahasa latin ambitiose menyebutnya. 

Salah satu tokoh pemimpin India, Mir Jafar adalah salah satu tokoh di masa kerajaan Bengal, India pada tahun 1747. Ia dikenal sebagai sosok yang ambisius untuk bisa mendapatkan tempat yang lebih tinggi. Padahal ia saat itu sudah menduduki jabatan cukup tinggi yaitu menjadi komandan pasukan Bengali di bawah pemerintahan Siraj ud-Daulah. 

Menurut The Webster’s Dictionary ambisi adalah keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan. Ilmu cocokologi mengatakan, “Mungkin inilah gambaran sedikit sosok Mir Jafar”. Merasa tak mungkin ambisinya dicapai dengan cara biasa, lalu terpikirlah kemudian skenario pengkhianatan terhadap kerajaan.

Mir Jafar pun membuat perjanjian dengan Inggris melalui salah satu komandan pasukan bernama Robert Clive. Saat itu ia menyerahkan pasukan Bengali pada pertempuran Plessey untuk ditukar dengan posisi tinggi. Rencana ini berhasil dan Mir Jafar pun diangkat. Namun, Mir mengetahui rencana Inggris ternyata ingin menguasai seluruh India. Kemudian ia pun bersekongkol dengan Denmark untuk menggempur Inggris dan rencana ini gagal.

Mir yang berkhianat lagi dan lagi, pada akhirnya mendapatkan belas kasihan Inggris. Ia pun kembali di posisi yang diincarnya tadi, hingga akhirnya mati pada tahun 1765 di istananya sendiri.

Kisah diatas dituliskan di Wikipedia dan menunjukkan pelajaran berharga bahwa Mir adalah gambaran nyata Ambitiose Sed Ineptum atau ambisius namun tidak kompeten. Itu menunjukkan betapa bahayanya jika ambisi tidak diimbangi dengan kompetensi dalam kejujuran.

Lain Mir Jafar, lain pula dengan Joshep Geobbels, Entah apa yang melintas di benak Geobbels. Pria yang mengemban tugas mendesain propaganda politik Nazi Jerman ini sengaja memilih “kebohongan” sebagai instrumen propaganda. Untuk mengangkat popularitas Nazi, kebohongan dikemasnya dalam teknik argentum ad nausem atau disampaikan berulang-ulang.

Geobbels sangat meyakini kebohongan yang disampaikan berulang-ulang akan diterima sebagai kebenaran. Nyatanya benar, dibawah propaganda yang dikenal dengan julukan “The Big Lie”, Hitler sejak 1930 hingga Perang Dunia II, semakin gemilang di Jerman dan semakin leluasa melebarkan sayap Nazi ke seluruh Eropa.

Apa yang bisa di petik dari kedua tokoh dunia tersebut, Mir Jafar dan Joshep Goebbels? Sederhana, saja bahwa tidak ada “manusia sebenarnya”, “yang ada sebenarnya manusia”. Kebohongan menjadi salah satu mata pisau yang menjadi senjata ketika ambisi telah menguasai.

Abad 21 ini adalah era-nya post-truth. Fenomena post-truth menampilkan keriuhan orang-orang yang saling bersaing mengklaim kebenaran. Sedihnya, setiap orang atau kelompok tanpa sungkan atau tanpa merasa kehilangan harga diri sengaja mengkonstruksi kebenaran dengan cara menyembunyikan fakta atau berbohong.

Kritikus The New York Time yang pernah meraih penghargaan tertinggi jurnalistik Pulitzer, Michiko Kakutani mengungkapkan bahwa era post-truth saat ini adalah era matinya kebenaran. Kebenaran dibunuh dengan cara menyembunyikan atau menenggelamkan fakta. Kini kebohongan yang bertengger di singgasana, kebohongan dikemas untuk pembenaran.

Kabar burung menyedihkan datang dari salah satu miniatur negara, kampus yang mana disana di huni manusia-manusia intelek, cerdas, dan calon-calon pemimpin bangsa. Tidak menilai dari satu sudut pandang, jika anekdot Mir Jafar dan Joshep Goebbels digabungkan tentu akan menjadi hal buruk berjalan bersamaan antara Ambitiose Sed Ineptum dan kebohongan argentum ad nausem di lingkungan kampus.

Bukan hal baru lagi, ini menjadi rahasia umum lagi bahwa di miniatur negara saja sudah ada benih-benih Mir Jafar dan Joshep Goebbels. Bagaimana pendapat anda? Seperti kisah Madara yang dibohongi Zetsu hitam ya? Cerita sedikit kalau Zetsu hitam itu memanipulasi sejarah yang di tulis Rikudo Sennin yang dikenal dengan Batu Uchiha bertujuan membohongi Madara untuk mengumpulkan cakra guna memperoleh kekuatan besar mugen tsukoyomi. Padahal mugen tsukoyomi bukan hal nyata, itu adalah tipuan muslihat semata.

Jadi sekarang apa yang harus dilakukan? Era Mir Jafar sudah selesai, era Joshep Goebbels sudah selesai, kisah Madara bahkan sudah dikalahkan dalam ceritanya. Tidak ada Ambitiose Sed Ineptum dan kebohongan argentum ad nausem yang abadi.

Sebagai calon pemimpin bangsa, sudah seharusnya menunjukkan kapasitasnya dengan kejujuran tidak hanya ambisius semata. Masih ingin manipulasi sejarah kayak Zetsu hitam yang ngaku-ngaku anak Kaguya?. (*)

*)Penulis adalah Dena Setya Utama, pemuda pegiat literasi digital Kabupaten Malang, Founder Pemuda Digital, Founder APNU, Founder Adyatama Media

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com