Rumah Peradaban Itu Bernama Perpustakaan

Home / Kopi TIMES / Rumah Peradaban Itu Bernama Perpustakaan
Rumah Peradaban Itu Bernama Perpustakaan Moh. Ahsan Shohifur Rizal, Pengurus PC ISNU Kab. Malang, Fasilitator Literasi Regional Jawa, Praktisi Hypnotherapy IBH, Pengurus Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kabupaten Malang. 

TIMESJEMBER, MALANGSERING dengan jalanya perkembangan keilmuan khususnya era disruption, maka perpustakaan harus berani memanfaatkan peruabahan itu dengan paradigma dan visi baru perpustakaan. Terkadang perpustakaan sekolah masih menjadi “anak tiri” dalam prioritas kebijakan khususnya pengembangan integrasi sekolah. Memang paradigma berpikir kebanyakan orang selama ini tentang perpustakaan masih saja dianggap sebagai “gudang buku” bukan “rumah ilmu atau peradaban”.  Mari kita selami dunia perpustakaan guna membuka cakrawala pikiran kita mengenai perpustakaan khususnya di sekolah.

Perpustakaan sekolah adalah rumah peradaban, Rumah Keilmuan dan atau Sumber Informasi. Banyak karya intelektual yang dihasilkan oleh cendikiawan atau penulis. Misalnya buku fiksi, non fiksi dan lain-lain. Hingga konten edukasi yang dihasilkan melalui aplikasi yang dapat dimanfaatkan oleh partisipan didik melalui web, junal online, buku online dan belajar mandiri dengan konsep Massive Open Online Course (MOOC).

Lalu bagaimana dengan ada era disruption yang serbaneka teknologi. Masihkah perpustakaan sekolah diminati oleh para partisipan didik untuk dikunjungi? Jawabanya adalah masih. Perpustakaan sekolah harus mampu menjawab tantangan partisipan didik yang sering kita sebut Gen Z ini. Caranya adalah perpustakaan memberikan berbagai layanan yang terintegrasi-terkoneksi dengan internet. Hari ini, perpustakaan harus terintegrasi dengan perpustakaan yang lain secara online sehingga, layanan koleksi atau sumber bacaan semakin beragam. Karena beberapa situs instansi pemerintah ada yang berlangganan jurnal online dan itu dapat dikases oleh siapa saja dengan ketentuan yang berlaku. 

Banyak sumber yang tersedia di dunia “awan” di antara open source dan open educational recousre. Pengelola perpustakaan sekolah mencoba membaca peluang itu dan berusaha mengiintegrasikan beberapa layanan itu dengan perpustakaan sekolah yang dikelolanya. Karena konsep perpustakaan harus mampu memberikan layanan prima dengan konsep perpustakaan dapat diakses atau dikunjungi kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja. Berarti perpustakaan disiapkan menjadi perpustakaan digital. Tentu dalam hal ini perpustakaan harus terintegrasi-terkoneksi dengan internet. Dengan begitu unsur serbaneka digital mampu menjawab kebutuhan partisipan didik yang hari ini mereka menjadi penduduk digital.

Banyak data yang “berseliweran” di awan dan belum tentu kebenaranya. Maka wujud salah satu layanan  perpustakaan sekolah adalah memberikan data informasi yang benar melalui sumber atau karya intelektual yang telah di oleh dalam rumah peradaban (perpustakaan). Dengan demikian perpustakaan sekolah berusaha memaknai era disrupsi ini sebagai peluang. Dengan banjir bandang informasi yang tidak jelas ditulis oleh siapa dan dari mana, maka perpustakaan sekolah mampu memberikan data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Harapannya, partisipan didik setidaknya ketika berkunjung di perpustakaan akan memperoleh data-data peradaban bangsa ini atau aset intelektual berharga bangsa ini dengan mudah dan sumber terpercaya. Selain itu, untuk menunjang suasana perpustakaan sekolah yang nyaman, perpustakaan sekolah harus mempetimbangkan aspek rekreasi desain interior dan eksterior sesuai zaman sehingga pemustaka selain mendapat sumber ilmu dan informasi juga mereka merasa nyaman ketika menikmati karya-karya yang terintegrasi di rumah peradaaban (perpustakaan). 

Semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan khususnya bagi pengelola perpustakaan sekolah. Mari kita ubah paradigma bahwa perpustakaan sekolah adalah rumah peradaban. Dan layak untuk dijadikan integrasi program yang menjadi visi sekolah. (*)

***

*) Penulis: Moh. Ahsan Shohifur Rizal, Pengurus PC ISNU Kab. Malang, Fasilitator Literasi Regional Jawa., Praktisi Hypnotherapy IBH, Pengurus Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kabupaten Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com