Koin Muktamar Bukti Loyalitas Warga NU

Home / Kopi TIMES / Koin Muktamar Bukti Loyalitas Warga NU
Koin Muktamar Bukti Loyalitas Warga NU Ahmad Prayitno, Pengurus di Majelis Wakil Cabang Nahdatul Ulama (MWC NU ) Kecamatan Kaligondang Purbalingga, Jawa Tengah

TIMESJEMBER, PURBALINGGAADA harapan besar atas pelaksanan Muktamar NU (Nahdatul Ulama) ke 34 di Lampung Timur, Provinsi Lampung pada 5-10 Rabi'ul Awwal 1442 H/22-27 Oktober 2020 mendatang.

Sebagaimana dilansir dari NU Online, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memutuskan bahwa Muktamar NU ke 34 akan dilaksanakan di Provinsi Lampung pada September 2020.

Keputusan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Nomor 420/AII/04 D/10/2019 yang ditandangani Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf dan Ketua Umum KH Said Aqil Siroj dan Sekjen Helmy Faishal Zaini Hasan.

Sebagai salah satu warga NU dan sebagai Pengurus di Majelis Wakil Cabang Nahdatul Ulama (MWC NU ) Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, saya berharap Muktamar yang akan datang sukses penyelengaraan, kesuksesan program dan sukses kepemimpinan NU kedepan. Kemudian sukses melanjutkan tonggak kepemimpinan NU dalam melanjutkan perjuangan Aqidah Ahlisunah Wal Jamaah dalam bingkai Nahdatul Ulama.

Islam Nusantara sebagai salah satu buah dari kepemimpinan Prof.K.H. Sayid Aqil Siraj. MA merupakan suatu keberhasilan yang tidak dapat dipungkiri. Melanjutkan dakwah Islam Nusantara dan mempertahankannya menjadi suatu tanggung jawab yang dipikulkan kepada pemimpin NU kedepan.

Menurut saya, keberhasilan pelaksanaan Mukhtamar NU ke 34 dibutuhkan optimisme warga NU dan sumbangsih warganya. Salah satunya sebagaimana intruksi ampuh kemandirian NU tentang penggalangan dana melalui koin. Karena dari koin ini, menjadi sesatu yang sangat besar wujud kontribusi warga NU dalam pelaksanaan Mukhtamar.

Masih dikutip dari NU Online edisi Jumat 20 Desember 2019 gagasan jitu dan intruksi PBNU tentang 'Koin Muktamar' berdasarkan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada hari Senin 4 November 2019, untuk menyukseskan Muktamar ke 34 Nahdlatul Ulama dibutuhkan sebuah program penggalangan dana jamaah dan simpatisan NU yang disebut dengan Gerakan Koin Muktamar.

Gerakan ini mengacu pada semangat historis, visi kemandirian dan harapan lahirnya partisipasi dan keterlibatan menyeluruh warga Nahdliyin dalam menyukseskan jalannya Muktamar NU ke 34.

Terkait hal itu PBNU menginstruksikan kepada Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang dan Pengurus Lembaga dan Badan Otonom NU se-lndonesia untuk bersama-sama menggalang 'Koin Mukhtamar'.

'Koin Muktamar' merupakan hal yang baru di Muktamar mendatang, sebab kegiatan penggalangan dana dengan Koin Muktamar ini tidak ada atau tidak diinstruksikan pada pelaksanaan Muktamar ke 33 di Jombang sebelumnya.

Beberapa lembaga internal NU telah menyambut baik program koin tersebut dan terus mengadakan penggalangan dana. Namun pertanyaannya apakah sudah cukup? sudahkah warga NU berpartisipasi? sudahkah lembaga dibawah Naungan NU ikut melaksanakanya?

Saya yang sudah lama menjalankan penggalangan dana dengan model mengumpulkan koin dari 130 an santri hanya dengan 3 bulan terkumpul Rp 7 sampai Rp 9 jutaan.

Padahal NU sebagai Ormas yang memiliki jutaan warga dan 18 lembaga Nu, 7 banom, 8 Banom berbasir profesi, sebagaimana yang dimuat disalah satu website PWNU Sumatra Utara pada Agustus 27, 2018 lalu.

Menurut hemat saya apabila seluruh warga NU berkontribusi beserta lembaga dan banomnya ikut berpartisipasi, maka dana fantastis Muktamar akan diperoleh dengan mudah. Dan bukan hanya ratusan juta namun miliaran rupiah ada di depan mata.

Koin NU sudah terbiasa didengar warga NU tepatnya saat peluncuran program LazisNu dan NU Care dari PBNU. Terkait hal tersebut, tentu ada sebagian masyarakat yang bertanya tentang proses dan manfaat program koin tersebut.

Sebagaimana yang di kabarkan NU Online pada Kamis 8 Februari 2018, KH Ma'ruf Islamuddin, selaku inisiator gerakan ini mengemukakan bahwa Koin NU merupakan singkatan dari Kotak Infak. Koin NU digunakan untuk mendorong warga NU untuk bersedekah.

"Koin NU ini bukan untuk mencari dana. Tapi untuk merawat uang yang ndak pati kanggo (tidak begitu dibutuhkan), seratus rupiah boleh, lima ratus rupiah boleh, seratus ribu rupiah juga boleh," kata kiai yang juga Ketua PCNU Sragen ini.

Manfaat yang belum dirasakan sebagian orang, mungkin karena di daerahnya tidak atau belum berjalan program koin Nu ini.

Namun sebagian ada dibeberapa daerah yang sudah merasakan manfaat keberadaan Program Lazis NU dan NU Care. Seperti bantuan beasiswa, bantuan untuk korban banjir, rumah kebakaran, bedah rumah, mobil ambulan, pembangunan gedung MWC, Bantuan modal UMKM atau pembangunan Klinik bahkan Rumah sakit NU.

Bukti lain, salah satunya di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah dari koin melahirkan Klinik NU di Kecamatan Karangmoncol, Klinik NU di Kecamatan Bukateja , Kilinik NU di Kutasari, Gedung MWC NU Kecamatan Mrebet dan disusul pembelian tanah MWC NU Kaligondang dan Kejobong yang nilai tanah dan bangunan mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah yang sebagian besar dana dari koin NU.

Saat masyarakat merasa keberatan dengan membayar zakat mal, maka menurut saya Koin Laziz NU menjadi salah satu media atau jalan untuk belajar berbagi. Dan juga menjadi salah satu metode dalam mencapai keberhasilan dakwah bil hal.

Program koin juga memiliki keunggulan, diantaranya mudah diterima masyarakat karena ringan dan tidak dibatasi jumlahnya.

Dari sedikit ulasan tersebut, kami berharap semoga Koin Mukhtamar akan terus berlanjut penggalangannya sehingga sampai saatnya pelaksanaan Mukhtamar ke 34 mendatang dengan menelan biaya yang tidak sedikit akan sukses sebagaimana dari koin bisa melahirkan gedung bernilai miliaran.

Khusus untuk program "Koin mukhtamar" kami juga berharap semoga akan dapat berkelanjutan di Muktamar-muktamar berikutnya. Dan koin yang terkemas dalam NU Care dan LazisNU semakin meningkat dan manfaatnya dirasakan masyarakat secara keseluruhan.

Semoga sukses Muktamar NU ke 34 di Lampung pada Oktobrer 2020 mendatang dengan 'Koin Mukhtamar' lebih membawa maslhahah untuk umat. (*)

***

*) Penulis adalah Ahmad Prayitno, Pengurus di Majelis Wakil Cabang Nahdatul Ulama (MWC NU ) Kecamatan Kaligondang Purbalingga, Jawa Tengah.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com