Stanislaus Riyanta: Kebhinnekaan dan Pluralisme di Indonesia Kembali Terusik

Home / Berita / Stanislaus Riyanta: Kebhinnekaan dan Pluralisme di Indonesia Kembali Terusik
Stanislaus Riyanta: Kebhinnekaan dan Pluralisme di Indonesia Kembali Terusik Pengamat keamanan negara dan terorisme Stanislaus Riyanta (Foto: Dokumen TIMES Indonesia)

TIMESJEMBER, JAKARTA – Pengamat keamanan negara dan terorisme Stanislaus Riyanta, menilai kebhinekaan dan pluralisme di Indonesia kembali terusik.

Menurutnya, ajaran intoleran dan radikalisme itu terjadi di dunia pendidikan. Dia mengatakan, anak-anak yang seharusnya belajar tentang keragaman justru didoktrin menolak perbedaan.

Penilaian itu muncul, setelah peristiwa pada Jumat, 10 Januari 2020 sekitar pukul 10:00-11:00, seorang pembina Pramuka yang mengajarkan kepada anak-anak yel-yel dan tepukan rasis yang menyebut kata kafir. Aksi itu terjadi di SD Negeri Timuran, Kota Yogyakarta.

Kemudian, seorang wali murid yang mengetahui hal tersebut kemudian protes dan memviralkan ke media sosial. Atas kejadian tersebut SD Negeri Timuran, Kota Yogyakarta yang menjadi tuan rumah kegiatan, angkat bicara. Tidak hanya itu, Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi ikut menyesalkan. Materi tersebut tidak ada dalam materi kursus mahir lanjutan (KML).

Menurutnya, kasus seperti itu sangat miris. Paham radikal dan intoleran diajarkan kepada anak-anak di lembaga pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa radikalisasi sudah terjadi secara sistematis. 

Dia menambahkan, aktivitas dalam lembaga pendidikan yang mengandung narasi radikal untuk mendorong perilaku intoleran dengan cepat diterima oleh anak-anak. Selanjutnya anak-anak tersebut akan menganggap intoleran dan radikalisme sebagai kebenaran dan wajar jika dilakukan. Maka tidak perlu kaget jika saat ini sudah terjadi aksi terorisme dengan pelaku berusia remaja.

"Pemerintah terutama Menteri Pendidikan dan Menteri Agama harus tegas menyikapi hal tersebut. Anak-anak dan remaja yang masih rentan menjadi target dari propaganda narasi radikal, yang sering kali dikemas sebagai ajaran agama. Pelaku-pelakunya memanfaatkan lembaga pendidikan karena bisa dilakukan dengan intens, dengan relasi kuasa dan memanfaatkan kebutuhan figur bagi anak-anak," papar Stanislaus Riyanta.

Peristiwa lain juga terjadi di SMAN 1 Gemolong Sragen, seorang siswa berinisial Z diduga mendapat perlakuan tidak mengenakan dari oknum pengurus rohis di sekolah tersebut karena tidak berhijab. Siswi tersebut mendapat intimidasi atau teror melalui pesan WA yang disampaikan langsung ke nomor Z. Pelaku yang diketahui adalah pengurus rohis terus menerus mengirim pesan supaya Z menjalankan syariat Islam dengan memakai jilbab. Hampir setiap hari pesan itu masuk ke nomor ponsel Z sehingga yang bersangkutan merasa terganggu.

Kemudian, di Solo juga seorang siswa dikeluarkan dari sekolah karena mengucapkan ulang tahun kepada temannya. Pihak SMP IT Nur Hidayah Solo  beralasan banyak pelanggaran yang dilakukan AN sebelum akhirnya keputusan itu diambil. Kepala SMP IT Nur Hidayah Solo Zuhdi Yusroni menyebut pihaknya telah melakukan penindakan sesuai dengan prosedur. Pihaknya telah melakukan pendampingan sebelum mengeluarkan siswi kelas VIII itu.

"Berdekatan dengan Solo, di SMK Negeri 2 Sragen bendera mirip dengan HTI dikibarkan oleh pengurus Rohis. Pembentangan bendera mirip lambang HTI di halaman sekolah tersebut terjadi pada hari Minggu 6 Oktober 2019. Ini semua tentu tidak boleh dibiarkan pemerintah harus turun sendiri, ini prinsip ideologis dan ketenangan warganegara yang tidak bisa diwakilkan kepada siapapun," kata Stanislaus Riyanta. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com